Bagi Anda yang tinggal di Bogor, Jawa Barat, ada seorang ahli spiritual yang berasal dari lereng Gunung Halimun. Dia ini berasal dari Cirebon dan Jakarta, tetapi jarang dikenal publik. Kata orang-orang yang sudah pernah datang orang ini sangat mahir dalam pengobatan pelet, pasang susuk, ilmu penglarisan, dan bidang ilmu kebatinan lainnya.
Berhati-hatilah jika ada paranormal, bomoh, dukun, orang pintar, atau Al Hikmah yang tidak memberi tahu Anda di mana mereka berada. Alamat kami jelas dan lengkap karena kami berasal dari keturunan Bogor, Cirebon, dan Jakarta.
Alamat lokasi praktik Bomoh Pelet di Bogor Kulon
Jl. KH.Abdul Hamid KM 9 Kaung Gading Cibitung Kulon Cibungbulang Pamijahan Bogor Jawa Barat 16630
Jalan menuju tempat praktik
Bis jurusan Bogor dapat digunakan oleh orang yang berasal dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bandung, Bekasi, Karawang, atau dari daerah lain.
- Setelah turun di Bubulak, naik angkot ke Leuwi Liang.
- Setelah turun di Terminal atau Stamplas Cemplang, naik angkot lagi ke Kampung Kaung Gading Tapos.
Sangat disarankan untuk memulai janjian melalui WhatsApp atau SMS terlebih dahulu, karena kemungkinan besar Anda akan terlambat di nomor WhatsApp ini: 0831-3721-1950.

Kota Bogor
Kota Bogor adalah sebuah kota di Jawa Barat, Indonesia. Terletak 59 km sebelah selatan Jakarta, dan berada di pusat Kabupaten Bogor.
Luasnya sebelumnya 21,56 km2, tetapi sekarang 118,50 km2, dan 1.030.720 orang tinggal di sana.
Cuaca: 24 °C, angin barat daya 5 km/h, kelembapan 88%
Sejarah Bogor
Sebagian besar orang yang tinggal di Bogor percaya bahwa Kota Bogor memiliki hubungan dengan Kota Pakuan, ibu kota Pajajaran.
Ada perbedaan pendapat tentang asal-usul Pakuan dan maknanya.
Hasil penelusuran dari sumber-sumber tersebut disajikan di bawah ini berdasarkan urutan waktu: Naskah Carita Waruga Guru (1750-an).
Menurut cerita Sunda Kuna ini
Nama Pakuan Pajajaran berasal dari banyaknya pohon Pakujajar di tempat itu. K.F. Holle pada tahun 1869.
De Batoe Toelis te Buitenzorg
Dalam karyanya yang disebut De Batoe Toelis te Buitenzorg (Batutulis di Bogor), Holle mengatakan bahwa ada kampung yang disebut Cipaku di dekat Kota Bogor dan sungai yang memiliki nama yang sama.
Menurut Holle, kehadiran pohon paku dan Cipaku ada hubungannya dengan nama Pakuan. Pakuan Pajajaran berarti "pohon paku yang berjajar".
G.P. Rouffaer (1919) dalam edisi Stibbe dari Encyclopedie van Niederlandsch Indie.
Menurut Fouffaer, "Pakuan" setara dengan "Maharaja", meskipun "paku" harus diartikan sebagai "paku jagat" (spijker der wereld), yang melambangkan pribadi raja seperti pada gelar Paku Buwono dan Paku Alam. "Pajajaran" berarti "berdiri sejajar" atau "imbangan".
Rouffaer bermaksud agar Majapahit berdiri sejajar atau seimbang dengannya.
Meskipun Rouffaer tidak menjelaskan arti Pakuan Pajajaran, orang dapat mengetahui bahwa dia menganggap Pakuan Pajajaran berarti "Maharaja yang berdiri sejajar atau seimbang dengan (Maharaja) Majapahit."
Hoesein Djajaningrat dan R. Ng. Poerbatjaraka
Ia setuju dengan Hoesein Djajaningrat (1913) bahwa R. Ng. Poerbatjaraka (1921) mendirikan Pakuan Pajajaran pada tahun 1433. Menurut De Batoe-Toelis bij Buitenzorg (Batutulis dekat Bogor), kata "Pakuan" harus berasal dari kata Jawa kuno "pakwwan", yang kemudian dieja "pakwan" (satu "w", seperti yang terlihat pada Prasasti Batutulis).
Kata Sunda akan diucapkan "pakuan". "Pakwan" berasal dari kata "kemah" atau "istana". Poerbatjaraka menyatakan bahwa Pakuan Pajajaran berarti "istana yang berjajar" (aanrijen staande hoven). H. Ten Dam pada tahun 1957.
Ten Dam pada tahun 1957
Ten Dam, seorang insinyur pertanian, bercita-cita untuk meneliti kehidupan sosial-ekonomi petani di Jawa Barat dengan menggunakan pendekatan sejarah yang lebih awal.
Dalam karyanya yang disebut Verkenningen Rondom Padjadjaran (Pengenalan sekitar Pajajaran), dia mengaitkan kata "Pakuan" dengan "lingga", atau tonggak, batu yang dipasang di sebelah prasasti Batutulis sebagai simbol kekuasaan.
Baca Artikel Lain:
Ia mengingatkan bahwa Sang Haluwesi dan Sang Susuktunggal disebutkan dalam Carita Parahyangan, yang dia percaya masih memiliki arti "paku". Ia berpendapat bahwa "pakuan" adalah kata benda umum yang berarti ibukota (hoffstad), yang harus dibedakan dari keraton, dan bukanlah nama.
Istilah "pajajaran" berdasarkan kondisi topografi
Ia mempertimbangkan istilah "pajajaran" berdasarkan kondisi topografi. Ia mengacu pada catatan Kapiten Wikler dari tahun 1690 yang menyatakan bahwa ia melewati istana Pakuan di Pajajaran, yang terletak antara Sungai Besar dan Sungai Tanggerang, yang juga dikenal sebagai Ciliwung dan Cisadane.
Ten Dam mengatakan bahwa karena Ciliwung dan Cisadane mengalir sejajar selama beberapa kilometer, itulah sebabnya nama "Pajajaran" muncul. Oleh karena itu, dalam pengertian Ten Dam, Pakuan Pajajaran adalah "Pakuan di Pajajaran" atau "Dayeuh Pajajaran". Istilah "Pakuan", "Pajajaran", dan "Pakuan Pajajaran" ditemukan di nomor 1 dan 2 dari Prasasti Batutulis, dan nomor 3 ditemukan di Prasasti Kebantenan di Bekasi.
Baca Artikel Lain:
Menurut teks Carita Parahiyangan
"Sang Susuk tunggal, inyana nu nyieunna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata". Ini berarti bahwa Sang Susuktunggal adalah orang yang membuat tahta Sriman Sriwacana untuk Sri Baduga Maharaja Ratu Penguasa di Pakuan Pajajaran, yang bersemayam di keraton Nama lain Sri Baduga adalah Sanghiyang Sri Ratu Dewata.
Karena itu, "kadaton" yang disebut Sri Bima dan seterunya
Kadaton yang disebut Sri Bima dan seterunya adalah yang disebut "pakuan". Raja tinggal di "pakuan", yang juga dikenal sebagai keraton, kedaton, atau istana. Arti "istana yang berjajar" dalam Carita Parahiyangan hanya dapat ditafsirkan oleh Poerbatjaraka. Nama-nama istana yang panjang, tetapi terdiri dari nama-nama yang berdiri sendiri, membuat tafsiran lebih dekat. Diperkirakan ada lima keraton (Bima, Punta, Narayana, Madura, dan Suradipati). Inilah mungkin yang disebut dengan istilah klasik "lima keraton".
Nama keraton induk adalah Suradipati
Ini serupa dengan nama keraton sebelumnya, seperti Surawisesa di Kawali, Surasowan di Banten, dan Surakarta di Jayakarta. Orang-orang mungkin lebih suka meringkas namanya dengan kata-kata Pakuan Pajajaran, Pakuan, atau Pajajaran, karena namanya panjang. Nama keraton dapat berkembang menjadi nama ibukota dan akhirnya nama negara.
Salah satu contohnya adalah nama keraton Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat, yang kemudian berkembang menjadi nama ibu kota dan wilayah. Dalam bahasa sehari-hari, orang biasanya menyebut Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai "Yogya."
Pakuan berarti ibukota, meskipun itu salah secara semantik.
Menurut catatan Tome Pires tahun 1513
Ibu kota kerajaan Sunda disebut "Dayo" (dayeuh), dan berada di daerah pegunungan, dua hari perjalanan dari pelabuhan Kalapa di muara Ciliwung. Orang Pelabuhan Kalapa jelas menggunakan kata "dayeuh" (bukan "pakuan") untuk menyebut ibukota karena nama itu berasal dari penduduk atau pembesar Pelabuhan Kalapa.
Dayeuh
"Dayeuh" adalah istilah yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, sementara "pakuan" adalah istilah yang digunakan dalam literatur untuk menggambarkan ibukota kerajaan. Untuk tujuan praktis, dalam tulisan yang akan datang digunakan istilah "Pakuan" untuk nama ibukota dan "Pajajaran" untuk nama negara, seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang di Jawa Barat saat ini.
Konsultasi rawatan masalah ilmu kebatinan, asmara cinta, santau, penglarisan dan problem lainnya silahkan untuk menghubungi kami jasa bomoh indo dari jawa barat Indonesia
0 Komentar